-->

Kerajaan Islam yang pernah bangkit di pulau Jawa

Kerajaan Islam di Jawa – Islam masuk ke Indonesia pada sekitar abad ke-6 M. Masuknya Islam ini membawa banyak perubahan, dari mulai keyakinan dan pandangan banyak sekali aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Selain dari bidang-bidang tersebut, masuknya Islam juga memepengaruhi dalam bidang kepemerintahan.

Hal itu ditandai dengan munculnya berbagai kerajaan bercorak Islam di Indonesia. Seperti di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi bahkan Papua. Pada kesempatan ini aku akan membahas kerajaan Islam yang berada di Pulau Jawa.



Masuk dan berkembangnya Islam di Pulau Jawa terjadi lantaran kiprah dari Walisongo yang sudah mulai berdakwah semenjak awal kala 14 M. Walisongo ini juga mempunyai kiprah sangat baik dalam perkembangan kerajaan Islam di Indonesia. Sejak saat itu, perkembangan agama Islam menjadi sangat pesat. Dan menguasai daerah-daerah yang berada di Pulau Jawa. Perkembangan agama Hindu dan Buddha yang semenjak dahulu ada, terkalahkan dengan masuknya Islam.

Bukti dari perkembangan budaya Islam dan pengaruhnya tersebut ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Jawa. Yang hingga kini masih ada wujudnya, baik itu bangunan-bangunanya maupun benda peninggalannya.

1. Kerajaan Demak (1475-1554)



Kerajaan Demak ini merupakan kerajaan islam yang pertama di Pulau Jawa. Kerajaan ini muncul pada tahun 1500 M dan runtuh pada tahun 1550 M. Meski terbilang cukup singkat bangkitnya (50 Tahun), kerajaan ini mempunyai peranan yang sangat penting. Dan sebagai sentra penyebaran agama Islam di Nusantara.

Raja pertama kerajaan Demak ialah Raden Patah, yang diberi gelar Sultan Alam Akbar Al-Patah. Raden Patah memerintah di Demak dari tahun 1500-1518 M. Menurut dongeng, Raden Patah ini keturunan dari raja terakhir Majapahit, yaitu raja Brawijaya V.

Pada masa pemerintahan Raden Patah, Kerajaan Demak berkembang sangat pesat. Karena memiliki daerah pertanian yang sangat luas sekali. Daerah pertanian itu menghasilkan banyak materi kuliner, seakan-akan padi, rempah-rempah dan lain-lain.

Selain itu, kerajaan Demak juga tumbuh sebagai kerajaan laut, karena letaknya yang strategis dan menjadi jalur perdagangan anatara Maluku dan Malaka. Maka dari itu, kerajaan Demak disebut juga kerajaan yang agraris dan laut.

Selama berdirinya, kerajaan Demak mengalami 5 kali pergantian kepemimpinan. Yakni Raden Patah sebagai pendiri kerajaan (1475-1518), Pati Unus (1518-1521), Trenggana (1521-1546), Sunan Prawata (1546-1549), dan Arya Penangsang (1549-1554).


Dari 5 raja tersebut, kerajaan Demak mengalami masa kejayaan saat di pimpin oleh Pati unus dan Sultan Trenggana. Dan masa keruntuhannya kerajaan demak dikala dipimpin oleh Arya Penangsang. Karena beliau dibunuh oleh pemberontak kiriman Hadiwijaya (Jaka Tingkir).

2. Kesultanan Cirebon (1430-1666)



Kerajaan Cirebon merupakan kerajaan Islam di Jawa yang berdiri pada periode ke 15 sampai dengan 16 Masehi. Kerajaan ini terletak di Pantai Utara Jawa (Pantura) dan menjadi daerah pembatas pelayaran antara daerah-daerah pelabuhan di Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Kerajaan Cirebon juga diyakini memegang peran yang sangat penting bagi penyebaran Islam di Jawa. Bukti pertamanya adalah kerajaan ini pernah di pimpin oleh Sunan Gunung Jati sebagai Sultan Cirebon II.

3. Kesultanan Banten (1524-1813)



Kesultanan Banten merupakan kerajaan Islam di Jawa yang bangkit pada periode ke 16 hingga dengan 19 Masehi. Latar belakang bangunnya kerajaan ini, alasannya adanya ekspansi wilayah yang dilakukan oleh kerajaan Cirebon. Perluasan itu bertujuan untuk membangun sebuah pangkalan pertahanan maritim di barat daerahnya.

Maulana Hasanuddin yang merupakan putra pertama dari Sunan Gunung Jati. beliau mempunyai kiprah yang sangat penting dalam penaklukan kawasan Banten. Keberhasilan penaklukan daerah ini dibuktikan dengan bangunnya Benteng Surosowan. Yang hingga ketika ini wujudnya masih dapat dilihat sebagai salah satu peninggalan kerajaan Banten.

Pada awalnya tempat Banten ini dikenal dengan nama Banten Girang, yang merupakan penggalan dari kerajaan Sunda. Kawasan tersebut selain sebagai ekspansi wilayah juga untuk penyebaran dakwah Islam.

Pada tahun 1596, orang-orang Belanda datang ke Banten untuk yang pertama kalinya. Saat itu terjadilah perkenalan dan transaksi berdagang antara orang-orang Belanda dan para pedagang Banten.

Tapi, kelama-lamaan orang-orang Belanda bersikap arogan dan sombong, bahkan mulai menyebabkan permasalahan di daerah Banten. Oleh karena itu, orang-orang Banten menolak bertransaksi dan mengusir orang-orang Belanda.

Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Daerah Banten terus mengalami kemajuan. Lokasi Banten yang strategis mempercepat perkembangan dan kemajuan ekonomi di Banten. Kehidupan sosial dan budaya juga mengalami kemajuan.

Secara politik pemerintahan Banten juga semakin kuat. Perluasan wilayah kekuasaan terus dilakukan sampai daerah yang pernah dikuasai Kerajaan Pajajaran. Masyrakat umum pada saat itu sudah memeluk agama Islam. Namun sebagian ada yang masuk kepedalaman Banten Selatan dan menolak untuk memeluk agama Islam.

4. Kesultanan Pajang (1568-1618)



Kerajaan Pajang merupakan kerajaan Islam di Jawa Tengah, yang menjadi penerus dari kerajaan Demak. Setelah ajal Sultan Trenggana, kerajaan Demak lalu runtuh. Kerajaan Pajang bangun di pedalaman wilayah Jawa Tengah, sehabis runtuhnya kerajaan Demak.

Daerah pajang zaman dahulu yaitu daerah bawahan kerajaan Demak, yang dipimpin oleh Ki Ageng Penging. Karena dahulu Ki Ageng Penging mengikuti pemberontakan kepemimpinan Pati Unus, dan dia di hukum mati.


Tapi, putranya yang bergelar Jaka Tingkir ini justru mengabdi kepada kerajaan Demak. Karena Jaka Tingkir prestasinya baik, dia di serahi kekuasaan daerah Pajang, Surakarta. Bahkan, dia diangkat menantu oleh Sultan Trenggana.

Setelah Jaka Tingkir wafat, kepemimpinanya dilanjutkan oleh Arya Pangiri. Beliau bukan anak kandung dari Jaka Tingkir. Anakaya kandung Jaka Tingkir yaitu Pangeran Benowo ketika masih kecil diangkat menjadi Adipati.
Namun, dia tidak mendapat diangkat menjadi Adipati, sehingga menimbulkan kekacauan pada kerajaan Pajang.

Pangeran Benowo kemudian bersekutu dengan Sutawijaya (raja pertama Mataram) untuk menggulingkan pemerintahan Arya Pangiri.

Usaha untuk menggulingkan pemerintah Arya Pangiri pun berhasil. Dan Pangeran Benowo diangkat menjadi Sultan Pajang. Tapi, Sutawijaya yang membantunya meminta pengukuhan penguasa Pajang berada di wilayah kekuasaan Mataram Islam.

5. Kesultanan Mataram Islam (1586-1755)



Kesultanan Mataram ialah kerajaan Islam di Jawa Tengah yang bangun pada kurun ke 17 M. Raja pertamanya yaitu Sutawijaya, Putra dari Ki Ageng Pemanahan. Pada masa kejayaannya, kerajaan Mataram ini pernah menyatukan tanah Pulau Jawa.

Kerajaan tersebut berbasisi pada bidang pertanian, dan menguasai di Jawa. Kerajaan ini juga pernah memerangi VOC di Batavia. Peninggalan-peninggalan yang masih mampu dijumpai ialah Kampung Matraman, sistem persawahan di Pantura (Pantai Utara Jawa), penggunaan Hanacaraka dalam bahasa Sunda, dan lain-lain.

6. Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunan Surakarta Hadiningrat (1755-Sekarang)



Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunan Surakarta Hadiningrat merupakan pecahan dari kerajaan Mataram Islam yang terpecah menjadi dua. Dua kerajaan Islam di Jawa ini bangkit dari tahun 1755 hingga sekarang ini.

Kedua kerajaan ini bangun sebagai negara dependen yang berbentuk kerajaan. Dan dibawah dari kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wilayah kedua kerajaan ini dahulunya yaitu kekuasaan Mataram yang runtuh balasan dari kudeta.



Nah, itulah penjelasan singkat mengenai Kerajaan Islam di Jawa dan agar mampu menambah pengetahuan anda semua.

0 Response to "Kerajaan Islam yang pernah bangkit di pulau Jawa"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel