Kisah patih gajah mada
Sosok sentral dalam Kerajaan Majapahit ini mengalami peningkatan karir militer yang pesat setelah berhasil menyelamatkan raja kedua Majapahit, Jayanegar dari bencana pemberontakan yang dilakukan oleh Ra Kuti pada tahun 1319. Setelah insiden itu Gajah Mada diangkat menjadi patih di Kerajaan Majapahit.
Saat menjabat sebagai patih, Gajah Mada sangat disibukkan dengan pemberontakan yang terjadi dimana-mana terutama sehabis meninggalnya Raden Wijaya. Sebagian besar pemberontakan terjadi karena orang-orang bekas istana ingin mengambil alih kekuasaan, ada pula daerah-daearh yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.
Karena prestasinya itu Gajah Mada sempat diangkat menjadi Patih Kahuripan (Sidoarjo) dan Patih Doha (Kediri). Karir militernya semakin moncer dikala masa pemerintahan Tribhuwana Wijayatunggadewi. Dia diangkat sebagai Mahapatih setelah berhasil menumpas pemberontakan di tempat Keta dan Sadeng (daerah di Situbondo).
Sebagai Mahapatih, Gajah Mada melakukan ekspansi besar-besaran ke segala penjuru Nusantara untuk memperluas wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Hasil perluasan tak sia-sia, Gajah Mada mampu merebut kerajaan penting seolah-olah Kerajaan Pejeng (Bali), dan sisa-sissa Kerajaan Malayu dan Sriwijaya.
Puncak karir Gajah Mada terjadi dikala pemerintahan Hayam Wuruk. Dia diangkat sebagai Patih Amangkubumi. Sosoknya di Kerajaan Majapahit seolah tak mampu digantikan lagi, mengingat kiprahnya yang begitu sentral dalam sistem pemerintahan. Dalam kurun ini pula sebuah ikrar yang sakral mulai dikenal, yaitu Sumpah Palapa.
Sumpah Palapa dikumandangkan pada tahun 1336 masehi atau pada tahun 1258 saka, sempurna setelah dia diangkat sebagai Patih Amangkubumi.
Isi Sumpah Palapa adalah:
Sira Gajah Mada pepatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gaja Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”
Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia, kiri-kira seperti ini artinya:
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin meninggalkan puasa. Dia Gajah Mada, “Ketika sudah menyatukan Nusantara, saya (baru akan) meninggalkan puasa (makan). Ketika mampu menglahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) meninggalkan puasa.”
Sungguh besar harapan Gajah Mada. Dari sumpahnya terlihat bahwa dia yaitu seorang yang bermimpi besar, percaya diri, berusaha keras, pantang mengalah dan berpikir jauh ke depan. Hasilnya, sumpah yang sempat dicibir banyak orang itu pun menjadi kenyataan. Penaklukan demi penaklukan terus dilancarkan. Mulai dari Swarnnabhumi (Sumatera), Tumasik (SIngapura), Dedahulu (BAli), Lombok, Brunei, Kalimantan, dll. Hanya dua wilayah di Pulau Jawa yang terbebasa dari invansi Patih Gajah Mada dan pasukannya, yaitu Kerajaan Sunda dan Pulau Madura.
Keberhasilan tersebut menciptakan Kerajaan Majapahit menjadi salah satu Kerajaan Paling Mashyur yang pernah ada di Indonesia, bahkan Dunia.
Menurut Kakawin Nagarakretagama, bahwa saat Hayam Wuruk kembali dari upacara keagamaan yang berlangsung di Simpling, dia menemui Gajah Mada yang sedang sakit. Disebutkan bahwa Gajah Mada meninggal pada tahun 1364 masehi atau 1286 saka. Meninggalnya Panglima Perang Terhebat yang dimiliki Majapahit ini merupakan pukulan telak bagi Kerajaan Majapahit. Mungkin ada orang-orang yang mampu menggantikan jabatan posisi Gajah Mada, namun tak ada seorang pun yang sanggup melampaui kehebatan, prestasi dan kharisma seorang Gajah Mada.

0 Response to "Kisah patih gajah mada"
Post a Comment