-->

Kisah pengembara Raden Hadiwijoyo (Jaka Tingkir)

Kisah Jaka Tingkir

Dalam sejarah dinyatakan bahwa Jaka tingkir merupakan Pendiri Kesultanan Pajang, dan juga seorang yang dipercaya merupakan murid kesayangan dari Sunan Kali Jaga. Sejauh pemaham penulis bahwa tidak ada sumber tulis baik prasasti maupun naskah yang mengisahkan mengenai pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasundan, namun demikian ada sumber dongeng turun temurun dari masayarakat pasundan yang mendiami bantaran sungai cimanuk mengenai jejak pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasundan, yang mana dalam kisah legenda tersebut dinyatakan pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasunan lalu berbuah kutuk pada keturunannya. Demikian kisahnya;


Pada tahun 1990-1997 di Indramayu khususnya di Kecamatan atau desa-desa yang dibelah Sungai Cimanuk masyarakat hilir mudik dari desa satu ke desa lainnya banyak yang menyebrang menggunakan prahu (Orang Indramayu Menyebutnya Jukung) yang di atasnya dikaitkan dengan tambang, sehingga jenis bahtera angkut ini disebut tambangan, masyarakat lebih menentukan transportasi tambangan  ketimbang memakai angkot yang melewati jalan umum dikarenakan jarak tempuh yang lebih singkat, selain juga karena menunggu angkot pada waktu itu sangat lama.

Transportasi Tambangan Di Sungai Cimanuk

Yang menarik dari sungai Cimanuk ini yaitu mengenai kisah seringnya orang-orang Jawa (Jawa Tengah-Jawa Timur) yang meniggal tak wajar sesudah menyebrangi sungai dengan menggunakan tambangan, ada yang sesudah naik tambangan, kemudian kakinya tiba-tiba berasa ada yang mematuk, kemudian sehari stelahnya meninggal, ada yang ketika menaiki tambangan melihat penampakan-penampakan aneh lalu sesampai dikontrakan meninggal, dan lain sebagainya.


Kisah-kisah akhir hayat tragis orang Jawa yang menyebrangi sungai Cimanuk, yang dahulu abad merupakan sungai tapal batas Kerajaan Jawa dan Sunda itu sangat kencang sekali gaungnya, bahkan saking khawatirnya mengenai hal ini, pernah juga dilakukan himbauan kepada orang-orang Jawa pendatang supaya jikalau berpergian jangan menyebrang melalui sungai ini.

Yang lebih unik daripada kisah tersebut, ternyata berdasar cerita yang dituturkan turun temurun dalam masyarakat Indramayu yang mendiami bantaran sungai Cimanuk, dinyatakan bahwa insiden tersebut berkaitan dengan  pengembaraan Jaka Tingkir ke Pasundan, menurut kisah turun tersebut dahulu dikatan ketika Jaka Tingkir menyebrangi Sungai Cimanuk Jaka tingkir dikisahkan membunuh siluman buaya putih yang mendiami sungai Cimanuk, sehingga dari insiden tersebut keturunan buaya putih tersebut menuntut balas pada Jaka Tingkir dan keturunannya, jadi siapa saja keturunan Jaka tingkir akan dibalas dengan pembunuhan pula. Itulah sebabnya kenapa banyak orang Jawa yang menyebrangi sungai Cimanuk lalu mati tak wajar, demikianlah memang legendanya.


Tapi yang menjadi problem apakah benar Jaka Tingkir pernah mengembara ke Pasundan..?
Apakah dalam kisah kehidupan Jaka Tingkir perna dikisahkan membunuh siluman buaya putih di Cimanuk?


Kedua hal tersebut itulah yang perlu dipecahkan.  Nah rupanya dalam hal ini penulis menemukan titik terang melalui kisah Jaka Tingkir yang terdapat dalam babad tanah jawi, demikian kisah selengkapnya;


Dalam Babad Tanah Jawi  dikisahkan;

Jaka Tingkir ingin mengabdi ke ibu kota Demak. Di sana ia tinggal di rumah Kyai Gandamustaka (saudara Nyi Ageng Tingkir) yang menjadi perawat Masjid Demak berpangkat lurah ganjur. Jaka Tingkir pandai menarik simpati raja Demak Trenggana sehingga dia diangkat menjadi kepala prajurit Demak berpangkat lurah wiratamtama.Beberapa waktu kemudian, Jaka Tingkir bertugas menyeleksi penerimaan prajurit baru. Ada seorang pelamar berjulukan Dadungawuk yang sombong dan suka pamer. Jaka Tingkir menguji kesaktiannya dan Dadungawuk tewas hanya dengan memakai Sadak Kinang. Akibatnya, Jaka Tingkir pun dipecat dari ketentaraan dan diusir dari Demak.Jaka Tingkir lalu mencar ilmu pada Ki Ageng Banyubiru atau Ki Kebo Kanigoro (saudara renta ayahnya / kakak mendiang ayahnya). Setelah simpulan, dia kembali ke Demak bersama ketiga murid yang lain, yaitu Mas Manca, Mas Wila, dan Ki Wuragil.Rombongan Jaka Tingkir menyusuri Sungai Kedung Srengenge memakai rakit. Muncul kawanan siluman buaya menyerang mereka namun dapat ditaklukkan. Bahkan, kawanan tersebut lalu membantu mendorong rakit hingga ke tujuan.Saat itu Trenggana sekeluarga sedang berwisata di Gunung Prawoto. Jaka Tingkir melepas seekor kerbau aneh yang dinamakan sebagai Kebo Danu yang sudah diberi mantra (diberi tanah kuburan pada telinganya). Kerbau itu mengamuk menyerang pesanggrahan raja, di mana tidak ada prajurit yang mampu melukainya.Jaka Tingkir tampil menghadapi kerbau ajaib. Kerbau itu dengan simpel dibunuhnya. Atas jasanya itu, Trenggana mengangkat kembali Jaka Tingkir menjadi lurah wiratamtama.

Kisah Jaka Tingkir sebagaimana terdapat dalam babad tanah jawi di atas jelas menyinggung mengenai sungai dan siluman Buaya putih, namun demikian bahwa Jaka Tingkir memang dikatan pernah berurusan dan membunuh buaya putih namun peristiwanya berlangsung di Sungai Kedung Srengenge.


Dengan demikian maka dipastikan ada kemungkinan kisah turun temurun mengenai pertarungan Jaka Tingkir dengan Siluman Buaya putih dicimanuk ini terinspirasi dari kisah ini, dalam kata lain kisah buaya putih Cimanuk yang menuntut balas pada orang Jawa ini hanya rekaan saja, pendongengnya ada kemungkinan terinspirasi dari kisah babad tanah jawi.

0 Response to "Kisah pengembara Raden Hadiwijoyo (Jaka Tingkir)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel