-->

Pengertian Hukum Karma dalam Agama Budha

Kebahagiaan dan penderitaan, yang umum dialami sebagai nasib dari semua makhluk hidup, terutama bagi insan, itu menurut pandangan Agama Buddha, tidak dianggap sebagai hadiah atau hukuman, yang diberikan oleh seorang Deva kepada roh yang telah melaksanakan perbuatan yang baik atau yang buruk. Umat Buddha mempercayai hukum alam, yang dinamai hukum ‘sebab dan balasan’, yang umum berlaku pada semua tanda-tanda-gejala alam. Umat Buddha tidak percaya kepada seorang Deva yang beliaunggap maha kuasa, dan oleh lantaran itu aturan ‘sebab dan balasan’, yang merupakan aturan alam itu, berlakunya tidak mampu dihambat oleh Deva, bahwa juga tidak mampu dihambat oleh semua Buddha, walaupun semua Buddha itu telah memiliki cinta-kasih yang universal.



Hukum ‘sebab dan akhir’ itu dalam bahasa Sanskrit, dinamai ‘karma’ dan didalam bahasa Pali, dinamai ‘kamma’, yaitu bahasa-bahasa yang dipergunakan didalam Agama Buddha. Didalam kata-katanya Sang Buddha, kita temui pedoman yang bunyinya sebagai berikut: ” ‘Karma’ kita sendirilah, atau perbuatan kita sendirilah, yang baik, dan yang jelek, yang menghadiahi dan menghukum kita”. Apakah ‘karma’ itu?. ‘Karma’ adalah suatu kekuatan, yang kebajikannya, menimbulkan reaksi yang mengikuti sesuatu agresi; ‘karma’ yaitu energi yang menciptakan jalan keluar; atau yang menyebabkan kita kini ini, hidup di alam ini; dan kehidupan kita yang baru ini ialah merupakan suatu aliran kehidupan yang tak habis-habis energinya, yang mengalir secara berlanjut, tanpa henti-hentinya.

Oleh lantaran itu, Yang Mulia Piyadassi Thera berkata : “Selama ada kemauan selama itu ada perbuatan. Selama ada perbuatan, selama itu ada suatu realitas kejam, yang timbul sebagai akibat dari suatu ‘karma’ yang jelek; dan selama ada perbuatan, hadiah serta hukuman, itu bukan merupakan kata-kata yang kosong. Keinginan itu menimbulkan perbuatan; perbuatan menimbulkan hasil; hasil itu mempertunjukkan dirinya sebagai suatu corporealitas gres, yang diisi dengan impian yang baru. Energi yang bersifat kenyal (= lentur) itu selalu mengubahnya menjadi kehidupan yang segar, dan kita hidup secara baka melalui cita-cita kita yang kuat untuk hidup. Adapun yang menjadi medium-nya, sarana-nya, yang membuat semua kemungkinan itu ada, yaitu ‘karma’.

Seperti yang dikatakan oleh Dr. Paul Bahlke, dari Jerman, yang dikemukakan didalam naskahnya yang berjudul ‘Essay-Essay Buddhis’, kita juga beropini bahwa, adalah pengetahuan perihal aturan alasannya yaitu dan akibat, aksi dan reaksi, yang mendorong seseorang untuk mencegah dirinya untuk tidak berbuat jahat dan untuk memperbanyak perbuatan-perbuatan yang baik. Seseorang yang mempercayai hukum alasannya dan akibat, mengetahui dengan sangat baik, bahwa hanya perbuatan dirinya sendirilah, yang membuat kehidupannya berisi penderitaan, dan sebaliknya, hanya perbuatan dirinya sendiri pula, yang membuat kehidupannya berisi kebahagiaan.

Keadaan seseorang, hari ini, ialah merupakan hasil dari jutaan pengulangan-pengulangan dari fikiran-fikiran dan perbuatan-perbuatannya. Dia bukan makhluk yang sekali tercipta telah berkeadaan seakan-akan sekarang ini; ia berkeadaan selalu menjadi keadaan yang baru, dan senantiasa tetap mengalami perubahan-perubahan, menjadi sesuatu yang gres, berikutnya lagi. Watak-wataknya ditentukan sebelumnya, oleh pemilihan-pemilihannya sendiri. Jenis fikirannya, dan jenis perbuatannya, yang dia pilih, menjadi kebiasaan-kebiasaannya, dan selanjutnya ini memilih dia untuk menjadi insan dengan watak-watak yang tertentu.

“Karma itu secara mutlak bersifat tidak mengenal belas kasihan, dan cara bekerjanya tidak pandang bulu. Sama keadaannya seolah-olah sebuah cermin yang telah dibersihkan dengan sangat baik, itu mampu memantulkan pada permukaannya, gambar yang sebaliknya, hingga ke hal yang sekecil-kecilnya, demikian juga “karma” itu dapat menyampaikan kepada orang yang melakukan perbuatan, akibat yang membalik, yang sempurna sama dengan jenis perbuatan yang telah dilakukannya.”

Yang tersebut dimuka tadi, sama seperti sabda Sang Buddha, sebagai berikut : “Tidak ada daerah untuk persembunyian di langit, atau di kedalaman dari samudera, pun juga tidak dapat dengan cara masuk ke dalam gua di sebuah gunung, atau juga di mana pun di Bumi ini, jika anda ingin menghindar dari terkena akibat dari buah perbuatan anda.”

Cara untuk bebas dari ‘karma‘ tidak mampu iajarkan, itu hanya mampu dihayati; tujuan tersebut hanya dapat dicapai dengan menghayati kebajikan-kebajikan atau akal-kebijaksanaan didalam kehidupan. Setiap individu haruslah merasa perlu untuk mampu bebas dari ikatan hukuman alam. Didalam tangan kita sendirilah letak dari kekuatan pembentuk nasib kita sendiri. Orang-orang lain mampu menolong kita secara tidak pribadi, tetapi kebebasan dari penderitaan, itu haruslah kita sendiri yang melaksanakannya, dan kita sendirilah yang haruslah menempa, dengan landasan diri kita sendiri pula.

Psychologi (= ilmu-jiwa)-nya Buddhis, mengungkapkan bahwa pada diri insan itu terdapat kemungkinan-kemungkinan yang masih bersifat terpendam, dan potensi-potensi untuk mencapai kemungkinan-kemungkinan itu harus diperkembangkan dan direalisir, dengan usaha-usaha yang positif. Manusia yaitu merupakan kumpulan dari perbuatan-perbuatan yang baik dan yang jahat. Dia selalu mengalami perubahan, ke arah menjadi baik, atau menjadi jahat. Perubahan ini tidak mampu dihindari, dan tergantung sama sekali kepada perbuatan-perbuatannya sendiri, dan tidak tergantung kepada sesuatu yang lain. Dengan perbuatan-perbuatan kita, kita membentuk tabiat-watak kita, kepribadian kita, individual kita. Harus hanya melalui perbuatan-perbuatan kita sendiri saja, kita dalam berusaha untuk mengubah kembali diri kita, dan untuk memenangkan atau membebaskan diri kita, dari penderitaan-penderitaan.

Adalah keharusan kita sendiri untuk mampu hidup, yaitu keinginan kita sendiri untuk dapat hidup, ialah ketergantungan kita kepada hiduplah, yang menciptakan permainan aksi dan reaksi, yang tak ada henti-hentinya ini, bergerak terus dengan tidak putus-putusnya. Selama kita gagal untuk melihat sifat yang bergotong-royong dari hukum alasannya adalah dan balasan, sifat yang bahwasanya dari persebaban sopan santun, selama itu pula masih terdapat keinginan dan ketidak-tahuan didalam diri kita, dan dengan demikian kita akan masih berkeadaan terikat kepada “Roda Kelahiran dan Kematian Secara Berulang-Ulang” itu. Apabila unsur penyebab dari sesuatu, telah dapat kita hancurkan maka secara automatis kemunculan unsur akhirnya, akan berhenti. Penderitaan akan menjadi lenyap, apabila akar-akar yang kecil-kecil dan bermacam-macam, dari penderitaan, telah mampu dilenyapkan. Seseorang, contohnya, yang membakar biji buah mangga, sampai menjadi bubuk, menimbulkan berhentinya kekuatan pertumbuhan, dan biji buah mangga itu tidak akan pernah dapat menjadi sebuah pohon buah mangga. Itu sama keadaannya dengan yang terjadi pada sesuatu yang terkena persyaratan-persyaratan (= terkena kondisi-kondisi) dan yang terdiri dari komponen-komponen, apakah itu benda mati, atau makhluk hidup.

Sama seolah-olah bahwa bayangan itu mengikuti bendanya, dan sama seperti bahwa asap itu muncul sesudah ada api, demikian jugalah unsur akibat itu baru muncul, sehabis ada unsur penyebabnya, dan penderitaan atau kebahagiaan itu muncul, sesudah pada diri orang, ada fikiran dan perbuatan, yang bersifat jelek, atau baik. Tidak ada akibat-akibat disekeliling kita, di dunia ini, kecuali ada unsur-unsur penyebabnya, yang mungkin tidak tampak, atau belum terbabar, yang kemudian mangejawantah (= manifest); dan bagaimana pun jenis penyebabnya, itu menghasilkan akibat-akibat, yang perbandingannya tepat sama dengan jenis-jenis penyebabnya. Orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa penderitaan, lantaran di periode yang lampau, yang waktunya bersahabat, atau jauh (di masa kelahirannya yang lampau), atau dalam kelahirannya yang sekarang ini, mereka pernah menanam benih kejahatan; dan orang-orang menuai hasil panenannya, yang berupa kebahagiaan, karena hal itu merupakan hasil perbuatan mereka di periode yang telah kemudian, dalam menanam benih kebaikan-kebaikan.

“Seseorang yang bekerja sangat keras, mengerjakan tugasnya sebagai pelayan, mungkin saja, pada suatu ketika, didalam, kelahirannya yang akan tiba, menjadi Pangeran yang baru.

Seorang Raja yang memerintah sebuah Kerajaan, mungkin saja, lalu dalam kehidupannya di dunia, pada kelahirannya yang akan tiba, menjadi pengembara yang miskin, dengan pakaian compang-camping, karena dalam kehidupannya yang sekarang ini, Sang Raja telah berbuat sesuatu yang sangat jelek, dan telah melalaikan kewajibannya dalam berbuat kebaikan.”

Biarlah seseorang mau bermeditasi terhadap anutan perihal hukum alasannya dan balasan ini, biarlah dia berusaha untuk memahaminya, dan supaya dia rajin menanam benih-benih kebaikan, dan rajin pula melenyapkan bintik-bintik kotor dari sifat-sifat jahatnya, yang terdapat didalam hatinya, yang merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan jahatnya di kurun kelahirannya yang lampau, bagaikan petani yang rajin melenyapkan rumput-rumput pengganggu tumbuhan di kebunnya.


0 Response to "Pengertian Hukum Karma dalam Agama Budha"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel