Candi peninggalan majapahit
Kerajaan Majapahit ialah sebuah kerajaan yang sangat besar di Indonesia. Tak mengherankan bila beliau meninggalkan banyak peninggalan candi- candi bersejarah seperti yang berikut ini.
Candi Sukuh
Candi Sukuh merupakan sebuah kompleks candi agama Hindu yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi sukuh dikategorikan sebagai candi Hindu sebab sudah ditemukannya obyek pujaan lingga dan yoni. Candi ini digolongkan sebagai candi yang kontroversial karena bentuknya yang tidak biasa dan karena banyaknya obyek-obyek lingga dan yoni yang menampakan seksualitas. Candi Sukuh telah lama diusulkan ke UNESCO untuk menjadi salah satu Situs Warisan Dunia semenjak tahun 1995.
Candi Cetho
Candi Cetho adalah sebuah candi yang diperuntukan bagi yang beragama Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit (abad ke-15). Laporan ilmiah pertama mengenai candi Cheto dibuat oleh Van de Vlies pada 1842. A.J. Bernet Kempers juga melaksanakan sebuah penelitian mengenainya. Ekskavasi (penggalian) untuk sebuah kepentingan rekonstruksi dilakukan untuk pertama kalinya pada tahun 1928 yang diprakarsai oleh Dinas Purbakala Hindia Belanda. Berdasarkan keadaannya dikala reruntuhan candi tersebut mulai diteliti, candi ini memiliki usia yang tidak jauh berbeda dengan Candi Sukuh. Lokasi candi terdapat di Dusun Ceto, Desa Gumeng,Kec. Jenawi, Kab. Karanganyar, yang terletak pada ketinggian 1400m di atas permukaan maritim.
Candi Pari
Candi Pari adalah sebuah monument peninggalan Masa Klasik Indonesia yang terletak di Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Propinsi Jawa Timur. Lokasi tersebut berada di sekitar 2 km ke arah barat maritim pusat dari semburan lumpur PT Lapindo Brantas.
Dahulu, di atas gerbang ada sebuah kerikil dengan angka menampilkan angka tahun 1293 Saka = 1371 Masehi. Dan merupakan peninggalan kerajaan zaman Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk 1350-1389 M.
Candi Jabung
Candi hindu ini terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton,Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Struktur bangunan candi yang hanya terbuat dari bata merah ini kuat bertahan hingga ratusan tahun. Menurut keagamaan, Agama Budha dalam kitab Nagarakertagama Candi Jabung di sebutkan dengan nama Bajrajinaparamitapura. Dalam kitab Nagarakertagama candi Jabung telah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada lawatannya saat keliling Jawa Timur pada tahun 1359 Masehi. Pada kitab Pararaton disebut Sajabung yaitu sebuah tempat pemakaman Bhre Gundal salah seorang keluarga raja.
Arsitektur bangunan candi ini hampir mirip dengan Candi Bahal yang ada di Bahal, Sumatera Utara.
Gapura waringin lawang
Dalam bahasa Jawa, Wringin Lawang berarti ‘Pintu Beringin’. Gapura agung ini terbuat dari materi bata merah dengan luas dasar 13 x 11 meter dan tinggi 15,5 meter. Diperkirakan dibangun pada masa ke-14. Gerbang ini lazim disebut bergaya candi bentar atau dengan tipe gerbang terbelah. Gaya arsitektur seperti ini diduga muncul pada era Majapahit dan kini banyak ditemukan dalam arsitektur Bali.
Candi Brahu
Candi ini diperkirakan dibangun sekitar era ke-14 dan merupakan salah satu gapura besar pada zaman keemasan Kerajaan Majapahit. Menurut beberapa catatan Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Mojokerto, candi / gapura ini difungsikan sebagai pintu masuk bagi bangunan suci untuk memperingati meninggalnya Raja Jayanegara yang dalam Negara kertagama biasa disebut “kembali ke dunia Wisnu” tahun 1250 Saka (sekitar tahun 1328 M).
Namun sesungguhnya sebelum meninggalnya Jayanegara candi ini dipergunakan sebagai senuah pintu belakang kerajaan. Dugaan ini didukung oleh adanya sebuah relief “Sri Tanjung” dan sayap gapura yang menjadi lambang penglepasan dan hingga sekarang di kawasan Trowulan sudah menjadi suatu kebudayaan yang biasa dilakukan dikala melayat orang meninggal






0 Response to "Candi peninggalan majapahit"
Post a Comment