Sejarah Candi Penataran Kabupaten Blitar
Candi Penataran terletak di desa Penataran, kecamatan Nglegok, kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia. Koordinat GPS : 8° 00’59.06″ S 112° 12’34.90″ E. Lokasinya yang terletak di kaki gunung Kelud, menimbulkan area Candi Penataran berhawa sejuk. Candi Penataran yaitu kompleks percandian terbesar dan paling terawat di provinsi Jawa Timur, Indonesia.
Candi Penataran merupakan candi yang kaya dengan banyak sekali macam corak relief, arca, dan struktur bangunan yang bergaya Hindu. Adanya pahatan Kala (raksasa menyeringai), arca Ganesya (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi Hindu.
Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra yang memerintah monyetjaan Kadiri, dan simpulan pada masa simpansejaan Majapahit. Dengan demikian candi ini melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi simpansejaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai kawasan pengangkatan para raja dan kawasan untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.
Berbagai kajian oleh para sejarawan terhadap teks-teks kuno, kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, contohnya, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi monyetjaan besar di JawaTimur. Candi Penataran pernah menyimpan bubuk dari raja Rajasa (Ken Arok) pendiri kerajaan Singasari, dan juga bubuk dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit. Bahkan konon, berdasarkan legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”, diucapkan di Candi Penataran.
MISTERI YANG TERSIMPAN DI CANDI PENATARAN MENGUAK FAKTA BAHWA INDONESIA MERUPAKAN ASAL PERADABAN DUNIA
Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran Kec. Nglegok ternyata menyimpan banyak misteri diantaranya bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal ini terungkap dari gambar relief yang ada di setiap sudut candi. Misteri dibalik Candi Penataran terungkap dari pemeriksaan relief oleh Yayasan Turangga Seta yang dimulai sejak tahun kemudian.
Dalam pahatan relief terkuak sejarah jikalau nenek moyang kita pernah melakukan infasi sampai Benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian dan sempat berperang dengan prajurit Bangsa Maya. Mereka kemudian menguasai wilayah tersebut sampai diangkat sebagai penguasa. Tidak hanya itu pada salah satu relief juga digambarkan beberapa bangsa lain seolah-olah Bangsa Han (China), Bangsa Campa, Bangsa Maya, Bangsa Yahudi dan Bangsa Mesir tunduk pada leluhur kita. Demikian seakan-akan diungkapkan Ketua Yayasan Turangga Seta, Agung Bimo Sutejo. Ia menambahkan dalam pahatan lain terungkap jika pada waktu itu terdapat 3 species yang sudah mempunyai peradaban yaitu ras manusia monyet, ras raksasa dan manusia biasa. Mereka pun hidup saling berdampingan.
Gambaran pada relief ini sekaligus membantah teori Darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera. Dalam tata cara janjkematian insan jaman dulu mereka yang meninggal jasadnya akan diperabukan sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Sedangkan ras insan simpanse dan raksasa dengan cara dikubur sehingga fosil yang banyak ditemukan arkreolog tersebut adalah fosil ras manusia monyet yang berbeda dengan species kita ketika ini dan dimungkinkan ras insan kera telah punah.
Sementara dari penelitian yang dilakukan Yayasan Turangga Seta, juga terkuak misteri kalau keberadaan Candi Penataran di Blitar yang merupakan Candi terbesar di Jawa Timur itu terkait dengan berdirinya simpansejaan besar di Blitar kala itu yang justru wilayah kekuasaannya lebih besar dari Kerajaan Majapahit. Namun sayang misteri ini belum akan diungkapkan pada publik.
Candi Penataran merupakan candi yang kaya dengan banyak sekali macam corak relief, arca, dan struktur bangunan yang bergaya Hindu. Adanya pahatan Kala (raksasa menyeringai), arca Ganesya (dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu), arca Dwarapala (patung raksasa penjaga pintu gerbang), dan juga relief Ramayana adalah bukti tidak terbantahkan bahwa Candi Penataran adalah candi Hindu.
Prasasti Palah yang terdapat di area Candi Penataran mengabarkan bahwa candi ini mulai dibangun sekitar tahun 1194, pada masa pemerintahan raja Syrenggra yang memerintah monyetjaan Kadiri, dan simpulan pada masa simpansejaan Majapahit. Dengan demikian candi ini melewati masa tiga kerajaan besar Nusantara yaitu Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Candi Penataran memegang peranan cukup penting bagi simpansejaan-kerajaan tersebut, yaitu sebagai kawasan pengangkatan para raja dan kawasan untuk upacara pemujaan terhadap Sang Pencipta.
Berbagai kajian oleh para sejarawan terhadap teks-teks kuno, kitab Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca, contohnya, dijelaskan bahwa Candi Penataran sangat dihormati oleh para raja dan petinggi monyetjaan besar di JawaTimur. Candi Penataran pernah menyimpan bubuk dari raja Rajasa (Ken Arok) pendiri kerajaan Singasari, dan juga bubuk dari raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) pendiri kerajaan Majapahit. Bahkan konon, berdasarkan legenda rakyat setempat, sumpah sakral Mahapatih Gajah Mada untuk menyatukan seluruh Nusantara dalam kekuasaan Majapahit, yang dikenal dengan nama “Sumpah Palapa”, diucapkan di Candi Penataran.
MISTERI YANG TERSIMPAN DI CANDI PENATARAN MENGUAK FAKTA BAHWA INDONESIA MERUPAKAN ASAL PERADABAN DUNIA
Candi Penataran yang terletak di Desa Penataran Kec. Nglegok ternyata menyimpan banyak misteri diantaranya bahwa Indonesia merupakan asal peradaban dunia. Hal ini terungkap dari gambar relief yang ada di setiap sudut candi. Misteri dibalik Candi Penataran terungkap dari pemeriksaan relief oleh Yayasan Turangga Seta yang dimulai sejak tahun kemudian.
Dalam pahatan relief terkuak sejarah jikalau nenek moyang kita pernah melakukan infasi sampai Benua Amerika dengan mengalahkan bangsa Indian dan sempat berperang dengan prajurit Bangsa Maya. Mereka kemudian menguasai wilayah tersebut sampai diangkat sebagai penguasa. Tidak hanya itu pada salah satu relief juga digambarkan beberapa bangsa lain seolah-olah Bangsa Han (China), Bangsa Campa, Bangsa Maya, Bangsa Yahudi dan Bangsa Mesir tunduk pada leluhur kita. Demikian seakan-akan diungkapkan Ketua Yayasan Turangga Seta, Agung Bimo Sutejo. Ia menambahkan dalam pahatan lain terungkap jika pada waktu itu terdapat 3 species yang sudah mempunyai peradaban yaitu ras manusia monyet, ras raksasa dan manusia biasa. Mereka pun hidup saling berdampingan.
Gambaran pada relief ini sekaligus membantah teori Darwin yang menyatakan manusia berasal dari evolusi kera. Dalam tata cara janjkematian insan jaman dulu mereka yang meninggal jasadnya akan diperabukan sehingga fosilnya tidak akan ditemukan. Sedangkan ras insan simpanse dan raksasa dengan cara dikubur sehingga fosil yang banyak ditemukan arkreolog tersebut adalah fosil ras manusia monyet yang berbeda dengan species kita ketika ini dan dimungkinkan ras insan kera telah punah.
Sementara dari penelitian yang dilakukan Yayasan Turangga Seta, juga terkuak misteri kalau keberadaan Candi Penataran di Blitar yang merupakan Candi terbesar di Jawa Timur itu terkait dengan berdirinya simpansejaan besar di Blitar kala itu yang justru wilayah kekuasaannya lebih besar dari Kerajaan Majapahit. Namun sayang misteri ini belum akan diungkapkan pada publik.

0 Response to "Sejarah Candi Penataran Kabupaten Blitar"
Post a Comment